Jumat, 01 April 2011

Panel Surya, Pembangkit Listrik Mandiri

Setiap kali terjadi bencana alam, listrik selalu padam. Kontainer Panel Surya menjadi solusi pemenuhan listrik saat terjadi bencana.

Bencana alam bisa datang kapan saja, dan di wilayah mana saja. Indonesia  mempunyai coretan panjang perihal peristiwa bencana alam, tsunami, gempa bumi, longsor, banjir yang merusak infrastruktur. Dalam kondisi seperti ini, ada kebutuhan yang sangat mendesak yang perlu disiapkan.

Selain dari kebutuhan sandang dan pangan. Ketersediaan energi listrik juga menjadi kebutuhan yang tidak bisa lagi diundur. Pasalnya, ketika terjadi bencana alam seperti tsunami dan gempa bumi ketersedian energi listrik menjadi sangat terbatas.

Untuk itu, Panasonic telah mengembangkan teknologi kontainer panel surya multifungsi sebagai penyedia energi listrik bagi masyarakat di daerah. Menurut Presiden Direktur Panasonic Gobel Indonesia Ichiro Suganuma, kontainer tersebut adalah produk paling anyar yang disebut kontainer solar panel, dilengkapi modul solar dan 48 baterai buatan perusahaan yang berbasis di Osaka ini. 

Kata Ichiro Suganuma, panel surya buatan Panasonik dapat membangkitkan listrik secara mandiri dengan daya rata-rata enam kWh per hari sesuai kebutuhan. Meskipun tidak ada matahari karena alat tersebut dilengkapi dengan baterai penyimpan energi maka energi yang tersimpan bisa digunakan dua sampai tiga hari.

Keunggulan lainnya, kontainer yang bersifat mobil ini terhitung mudah perakitannya. Panel-panel surya yang berangkat dari teknologi photovoltaic ini bahkan pemasangannya bisa dalam posisi miring maupun tegak. Uniknya, penyerapan energi mataharinya tetap sama. 

Selain itu, energi listrik dari panel surya tersebut dapat digunakan untukl menghidupkan berbagai macam alat elektronik rumah tangga seperti lampu, televisi, kulkas dan yang lainnya. "Akan lebih baik kalau pakai perangkat elektronik hemat energi," kata Suganuma di kantor Panasonic Gobel Indonesia Jakarta, Rabu pekan lalu.  

Tidak hanya sebagai kebutuhan rumah tangga, sambungnya kontainer panel surya juga dapat digunakan sebagai penyedia energi listrik pada toko retail serta fasilitas kesehatan, pendidikan, dan komunikasi. Meskipun demikian produk tersebut masih sanggat terbatas. "Mau ujicoba dulu. Targetnya bisa segera di pasarkan karena potensi pasarnya cukup besar, penduduk pedesaan yang belum bisa mengakses listrik masih banyak," tutur Suganuma yang dalam kesempatan itu telah hadir Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla.

Namun begitu Suganuma mengakui, dalam  skala kecil, kontainer itu memang dapat dipakai sebagai penyedia energi listrik mulai dari toko, sekolah, maupun  tempat-tempat pelayanan kesehatan. Catatan yang terkumpul memang menunjukkan, sampai kini, kapasitas terpasang Perusahaan Listrik Negara (PLN) baru  mencakup kisaran 60 persen. Target PLN pada 2019 adalah penambahan pembangkit hingga 55.484 megawatt (MW).

Pada tahap awal, kata Pria yang lumayan fasih berbahasa Indonesia itu, uji coba perangkat panel surya tersebut akan dilakukan di daerah-daerah yang aliran listriknya terganggu karena bencana. "Kami mau bikin rencana dengan Palang Merah Indonesia (PMI), mau dikirim kemana saja nantinya sesuai dengan kebutuhan. Ini akan menjadi bagian dari pelaksanaan tanggungjawab sosial perusahaan kami,"

Semantara dari piham PMII yang diwakili oleh Jusuf Kalla mengatakan, pihaknya bisa memanfaatkan sumber energi dari matahari tersebut untuk menghidupkan lampu-lampu dan peralatan elektronik lainnya di pos-pos pengungsian para korban gempa.

Kendati begitu, baik Ichiro Suganuma, Jusuf Kalla, dan Rachmat Gobel berpandangan kalau energi surya, kini,  terhitung masih energi yang menyedot biaya investasi lebih tinggi.  Sekarang, papar Kalla, energi listrik dari pembangkit listrik tenaga batu bara memerlukan ongkos 1.000.000 dollar AS per MW. Lalu, listrik dari pembangkit  panas bumi, biayanya 2.500.000 dollar AS per MW. "Energi surya biayanya 4.000.000 dollar AS per MW," demikian  sambung Jusuf Kalla.  

Fathul Ulum  

0 komentar:

Posting Komentar